Punya Banyak Pilihan, Yuk Ajak Anak Muda Terjun di Dunia Kreatif

Dunia ekonomi kreatif sudah bukan hal yang baru. Masyarakat, khususnya yang berada di kota besar sudah banyak yang berlangganan layanan streaming hiburan atau pergi ke bioskop, membeli makanan, pakaian atau furnitur secara online, membaca buku atau mendengarkan musik streaming dalam perjalanan ke kantor. Ada pula yang mengonsumsi produk layanan kreatif. Dalam dunia kreatif, input utamanya berasal dari bentuk kekayaan intelektual atau produk yang dapat dilindungi oleh hak cipta.

Founder sekaligus CEO Fantastis Anak Bangsa (FAB), Fritz B. Tobing, berbagi cerita bahwa platform bisnis kreatif yang dibangunnya harapannya bisa menciptakan ekosistem industri kreatif di Indonesia. “Dengan FAB platform bisnis kreatif, para pengusaha kreatif anak bangsa yang terkoneksi di dalamnya bisa memperoleh dukungan teknologi, pendampingan, pendanaan, sumber daya, hingga jaringan bisnis,” katanya pada sesi talkshow ‘IdeaFest’ secara virtual bertajuk ‘The Young is Not The Future’, 27 November 2021.

Ia berharap dengan adanya ekosistem di dunia bisnis kreatif yang besar dan solid, ekonomi kreatif akan terus berkembang. “Tentunya dengan terbentuknya ekosistem yang seperti itu, otomatis dapat mendorong roda perekonomian bangsa,” kata Fritz.

Ekonomi kreatif mencakup kegiatan ekonomi berbasis pengetahuan yang menjadi dasar ‘industri kreatif’. Industri tersebut meliputi periklanan, arsitektur, seni dan kerajinan, desain, fashion, film, video, fotografi, musik, seni pertunjukan, penerbitan, penelitian dan pengembangan, perangkat lunak, permainan komputer, penerbitan elektronik, dan TV/radio.

Di Amerika Serikat nilai produksi ekonomi kreatif pada sisi seni pertunjukan dan budaya online-offline pada tahun 2019 mencapai US 919,7 miliar dollar, atau sebesar 4,3 persen dari PDB negara itu. Di negeri paman Sam itu, seni pertunjukan berkontribusi lebih besar dibandingkan industri konstruksi, transportasi dan pergudangan, perjalanan dan pariwisata, pertambangan, utilitas, dan pertanian.

Pertumbuhan sisi ekonomi kreatif di Amerika Serikat berbeda dengan di Indonesia. Di Amerika pertumbuhan terbesarnya ada di seni pertunjukan, termasuk video, film, fotografi, dan musik, sedangkan di Indonesia ada di sisi fashion, kriya, dan kuliner. Kita bisa lihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menggarap data ekonomi kreatif dan pariwisata sejak awal 2019, tercatat kontribusi subsektor ekonomi kreatif pada PDB nasional mencapai Rp 1.211 triliun. Tetapi ini didominasi oleh usaha kuliner, fashion, dan kriya. Jumlahnya mencapai sekitar 8,2 juta usaha kreatif.

Fritz menambahkan bahwa anak muda bukan lagi sebagai kunci dan penentu masa depan. “Peran mereka itu bukan nanti, tapi sekarang, terutama dalam mendukung kemajuan ekonomi bangsa. Anak muda itu kunci masa kini,” katanya.

Menurut Fritz, generasi muda sekarang penuh dengan kemudahan dalam memilih. Mereka bisa memilih berbagai ilmu yang ingin mereka geluti, dan juga memilih profesi yang mereka senangi. Ada pula banyak kesempatan yang terbentang untuk anak muda. “Tapi pada saat yang bersamaan, mereka diberikan tanggung jawab besar bahwa mereka tidak hanya berperan untuk nanti, tapi saat ini. Oleh karena itu, anak muda perlu didorong ke arah yang benar. Anak muda juga harus punya inisiatif yang tinggi untuk mulai menjadi entrepreneur,” katanya.

Setuju dengan Fritz, Co-Founder dan Business Director AmbilHati, Sandru Emil menambahkan, anak muda itu ada untuk masa sekarang, bukan nanti. “Anak muda sekarang berani mengambil resiko atau risk tollerance. Mereka juga optimsitik. Buktinya, banyak startup dan unicorn yang berhasil dipimpin oleh anak muda,” kata Sandru yang juga pembina Y program.

Y program atau Young Creative Entrepreneur Program merupakan program solusi yang tersedia dalam platform FAB untuk Gen-Z dan milennial, yang ingin menjadi young creativepreneur.

Menurut Sandru masalah terbesar young entrepeneur di Indonesia, mereka tidak tahu bagaimana mengelola bisnis, sementara mereka hanya punya modal ide besar dan semangat. Padahal, ide besar tidak akan menjadi ide besar jika tidak dijalani. “Entrepreneur itu end-to-end, semuanya harus dilakukan,” ujarnya.

“Y diperuntukkan bagi talenta kreatif muda yang akan memulai usaha baru, ataupun usaha kreatif yang sudah berjalan, dengan cakupan usia 18 – 30 tahun. Melalui platform Y, mereka akan kami persiapkan sebagai pengusaha muda terbaik di bidang kreatif,” ujar Sandru.

“Anak muda harus dapat merealisasikan mimpinya sekarang, bukan nanti. Untuk itu, kami mengajak seluruh talenta kreatif muda Indonesia untuk bergabung bersama Y, agar mimpi itu dapat terealisasi saat ini,” kata Sandru.

Lebih jauh ia menerangkan, Y juga akan memberikan dukungan berupa mentorship atau pendampingan, pengetahuan dalam membangun usaha, dan jaringan usaha yang berada di dalam ekosistem FAB. Y Program membangun initimate mentorship, dengan berbagi pengalaman.

“Kami memberikan fundamental dari sisi finansial serta bagaimana mengelola dan menumbuhkan bisnis mereka,” kata Sandru, yang menyebutkan sejak diluncurkan akhir Oktober 2021 lalu, di dalam platform Y sudah bergabung Katch, Basement, BSKSBT, dan Mooilux.

Katch merupakan salah satu contoh mimpi sukses anak muda yang berhasil membangun usaha kreatifnya melalui platform Y. Katch bergabung di dalam platform Y, dengan mempunyai keunikan tersendiri, yakni woman driven creative agency. Katch baru berdiri pada tanggal 28 Oktober 2021. Kendati demikian, dua dari tiga orang founder-nya, di antaranya Nabyl Farizi dan Novelia, memiliki pengalaman di industri kreatif lebih dari 10 tahun di mutinasional agency dan mereka juga banyak meraih berbagai penghargaan kreatif.

“Di awal bergabung, kami mendapatkan mentorship dan pendampingan, bahwa kami harus mempunyai keunikan ketika membangun agency. Jadi, tujuannya jelas, target ke mana, siapa dan sebagainya,” kata Nabyl Farizi, Co-Founder & Creative Director Katch pada kesempatan yang sama.

Nabyl melanjutkan, dari ilmu yang didapatkannya, perempuan mempunyai peran yang besar terhadap produk atau brand yang akan dipilih, termasuk keputusan pembelian untuk konsumsi keluarga di rumah. Misalnya, suami akan membeli mobil, atau gadget pasti mempertimbangkan pendapat istri. “Insight itulah yang kemudian menjadi keunikan didalam agency kami,” katanya.

Menurut Nabyl, hanya dalam kurun waktu dua bulan, Katch sudah menangani brand-brand milik Orangtua Group, Enfagrow, dan BurgerKing, tentunya menjadi hal mustahil kalau mereka tidak bergabung di dalam platform Y dengan kekuatan jaringan bisnis seperti FAB.

Nabyl menyukai konsep Y, karena ia dan tim dibina dan dan didampingi benar-benar oleh ‘kakak-kakak pembina’. Contohnya, ia diajari berkenalan dengan klien, dibantu dicarikan jalan keluar ketika menghadapi masalah saat menangani klien. “Di Y, kami bisa bertanya kepada para kakak pembina. Hal lainnya, kami juga dibantu, karena Y mengedepankan kolaborasi. Ini penting, untuk kami yang masih dalam tahap belajar,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *